Tampilkan postingan dengan label Ajaran Wahidiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Wahidiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Januari 2016

557 - AJARAN POKOK WAHIDIYAH “LILLAH BILLAH” DAN "LIRROSUL BIRROSUL"



LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL merupakan realisasi praktis atau konsekuensi batiniyah dari dua Kalimah Syahadat :
ASHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ROSUULULLOH.
Jadi orang yang senantiasa LILLAH - BILLAH dan LIRROSUL – BIRROSUL ini berarti terus menerus hatinya musyahadah tauhid dan musyahadah risaalah. Istilah lain, hatinya terus menerus membaca kalimah syahadatain dengan penuh pengabdian, penghayatan dan kesadaran yang mendalam.


  1. “LILLAH BILLAH”

Semua orang beragama apa saja, sama-sama dikaruniai kemampuan oleh Alloh wa Rosuulihi SAW. dapat mengetrapkan LILLAH BILLAH dalam hatinya. LILLAH BILLAH bukan suatu upacara keagamaan, melainkan keseragaman sikap hati manusia beragama atau manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi LILLAH BILLAH seharusnya menjadi keseragaman paham bagi setiap manusia yang menyatakan diri sebagai hamba Tuhan Maha Esa.
Bagi kita bangsa Indonesia yang mengakui dan menggunakan falsafah Pancasila sebagai pedoman dan tuntutan hidupnya, dimana sila pertama dari Pancasila itu Ketuhanan yang Maha Esa, dituntut oleh Pancasila itu sendiri agar supaya bangsa Indonesia mengetrapkan LILLAH BILLAH. Atau jika memakai istilah Pancasila UNTUK/ KARENA TUHAN YANG MAHA ESA dan SEBAB TUHAN YANG MAHA ESA. Diterapkan di dalam hati setiap bangsa Indonesia dalam segala langkah dan kegiatan hidupnya.
LILLAH = Lil Tuhan Yang Maha Esa.
= Untuk/ karena Tuhan Yang Maha Esa.
BILLAH = Bil Tuhan Yang Maha Esa.
= Sebab Tuhan Yang Maha Esa.
Kita semua setiap bangsa Indonesia diberi kemampuan dapat mengetrapkan itu. Semua !. Dari segenap lapisan masyarakat bangsa Indonesia. Dari pemeluk agama apa saja dan dari pengikut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa mana saja, mampu mengetrapkan LILLAH BILLAH tidak membutuhkan syarat-syarat yang berat, tidak membutuhkan ilmiyah yang sukar-sukar. Tidak memerlukan batasan tingkatan-tingkatan hidup dan tidak ada pembatasan umur sudah dewasa atau belum dewasa. Semua, sekali lagi semua, diberi kemampuan oleh Alloh Tuhan Yang Maha Pencipta ada kemauan. Hanya modal kemauan ini yang diperlukan. Siapa ada kemauan pasti menemukan jalan.
Firman Alloh SWT :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (29- العَنْكَبُوت : 69).

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam menuju kepada-Ku, pasti AKU tunjukkan berbagai jalan-KU” (29 – al-Ankabuut : 69).

Jelas disitu “ALLADZIINA”= orang-orang atau orang banyak. Tegasnya lagi, manusia.

اَلْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالنَّحْلِ بِلاَ عَسَلٍ
“Ilmu tanpa amal bagaikan lebah yang tanpa madu”

Yang ada hanya sengat (entup-jw)-nya saja. Mungkin hanya bisa menyengat (ngentup-jw) orang lain masyarakat saja. Ibarat ada orang sakit bukan memberikan madu obatnya melainkan malah memberikan racun. Jelas merugikan diri sendiri karena tidak punya madu, dan merugikan orang lain karena sengatannya.

Oleh sebab itu, disamping kita mempelajari ilmu-ilmu (ilmu apa saja) yang lebih penting lagi adalah usaha memperoleh hidayah !. Caranya antara lain dengan mujahadah seperti sudah kita bahas dimuka. Telah diperingatkan oleh Rosululloh SAW :

مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا (رَوَاهُ أَبُو منصُور والدَّيْلَمي عن جَابِر رضِيَ اللهُ عنه).

“Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, dia bukan menjadi dekat (kepada Alloh), melainkan bahkan semakin jauh dari Alloh” (Hadits riwayat Abu Manshur dan ad-Dailami dari Jabir Ra.).
Semakin jauh, berarti semakin dibendu oleh Alloh SWT. Semakin dikutuk oleh Alloh SWT. Jadinya semakin berlarut-larut, semakin besar menimbulkan kerugian di dalam masyarakat. Mari kita koreksi diri kita sendiri!.
Alhamdulillah!. Dengan mujahadah-mujahadah Wahidiyah menurut pengalaman yang sudah-sudah, banyak dikaruniai taufiq dan hidayah dari Alloh SWT yang tidak atau jarang kita peroleh diluar menjalankan mujahadah Wahidiyah. Mari kita laksanakan sebagian.

الفَاتِحَة
يَا رَبَّنَا اللََّهُمَّ صَلِّ سَـلِّمِ * عَلَى مُحَمَّدٍ شَفِيْعِ الأُمَمِ
وَالأَلِ وَاجْعَلِ الأَنَامَ مُسْرعِيْن * بِالْوَاحِدِيَّةِ لِرَبِّ الْعَلَمِيْن
يَارَبَّنَا اغْفِرْ يَسِّرْ افْتَحْ وَاهْدِنَا * قَرِّبْ وَأَلّفْ بَيْنَنَا يَارَبَّنَا 
الفَاتِحَة


      2. “LIRROSUL BIRROSUL”
Ini terbatas, tidak universal seperti halnya LILLAH BILLAH. Terbatas hanya dapat dilakukan oleh orang yang beragama Islam tentunya. Umat agama selain Islam mungkin ada halangan mengetrapkannya. Akan tetapi juga tidak mustahil ada jalan untuk itu. Walloohu A’lam !.
Kita sebagai umat Islam wajib mengetrapkan LIRROSUL BIRROSUL disamping LILLAH – BILLAH. yaitu merupakan konsekuensi batiniyah kita selaku umat Rosululloh SAW.
LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL merupakan realisasi praktis atau konsekuensi batiniyah dari dua Kalimah Syahadat :
ASHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ROSUULULLOH.
Jadi orang yang senantiasa LILLAH - BILLAH dan LIRROSUL – BIRROSUL ini berarti terus menerus hatinya musyahadah tauhid dan musyahadah risaalah. Istilah lain, hatinya terus menerus membaca kalimah syahadatain dengan penuh pengabdian, penghayatan dan kesadaran yang mendalam.
Masalah kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi SAW, adalah masalah prinsip bagi setiap umat Rosullulloh SAW, masalah paling pokok yang akan menentukan bahagia atau sengsara. Oleh karena itu harus kita perhatikan, harus kita usahakan dengan serius, disamping memperhatikan soal-soal lain yang kita butuhkan. Kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani, kebutuhan material dan kebutuhan spiritual. Bahkan justru di dalam kita melaksanakan dan mengisi bidang-bidang yang harus kita penuhi, supaya selalu dijiwai LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL yang harus terus menerus kita tingkatkan dan kita sempurnakan tanpa ada batasnya.
Sekali lagi, ilmiah mudah dipelajari atau hafal. Akan tetapi tumbuhnya rasa LILLAH BILLAH, LIRROSUL BIRROSUL atau pengetrapan dzauqiyahnya, tergantung kepada HIDAYAH dari Alloh SWT. Dan untuk memperoleh hidayah ini diperlukan bantuan dan bimbingan dari Penuntun atau Pembimbing. Yaitu orang yang sudah ahli dan berpengalaman yang mempunyai wewenang atau kompeten yaitu yang menerima tugas dari Alloh SWT untuk membimbing masyarakat di dalam perjalanan wushul ma’rifat kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Di dalam dunia tasawuf, Pembimbing tersebut dikenal sebagai Mursyid yang Kaamil dan Mukammil. Orang yang sudah sempurna dan mampu menyempurnakan orang lain.
Di dalam perjalanan manusia menuju wushul – sadar ma’rifat kepada Alloh wa Rosuulihi SAW, jika tidak ada yang membimbing, pada umumnya mengalami kebingungan dan tersesat jalan oleh berbagai gangguan dari Iblis yang sangat halus sekali sehingga yang bersangkutan tidak merasa. Ibaratnya orang akan menghadap raja atau presiden harus berhubungan dan melalui orang-orang yang ditugaskan oleh presiden atau raja mengatur masalah tersebut. Tanpa melalui pejabat kerajaan atau kepresidenan yang berkompeten maka sulit sekali bahkan tidak mungkin bisa berhasil menghadap. Sekalipun dari kalangan tingkat atas, sekalipun dia sudah mempelajari dan mengerti cara-cara atau jalannya menghadap Presiden atau Raja. Begitu juga soal kesadaran, soal wushul ma’rifat kepada Alloh wa Rosuulihi SAW, harus melalui Pembimbing yang berkompeten mengantarkan wushul. Tidak cukup hanya mempelajari teori atau ilmiyah saja.
Kita, di dalam Perjuangan Wahidiyah berkeyakinan seperti keyakinan dalam dunia tasawuf bahwa Ghouts Hadzaz Zaman RA, adalah Priagung yang berkompeten di zaman sekarang mengantarkan dan membimbing masyarakat sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW.
Maka oleh karena itu kita para pengamal Wahidiyah dan masyarakat, saalikin pada umumnya perlu dan harus mengadakan hubungan dengan Ghouts Hadzaz Zaman Ra. terutama hubungan secara batiniyah. Diantara cara hubungan dengan Hadzaz Zaman Ra. tersebut adalah mengetrapkan di dalam hati “LIL GHOUTS BIL GHOUTS”.
AL FAATIHAH - MUJAHADAH !.
Sumber : Kuliah Wahidiyah - YPW Kedunglo Kediri.


Senin, 18 Januari 2016

555 - AJARAN POKOK WAHIDIYAH "LIRROSUL BIRROSUL"


Lihat Postingan di Facebook
Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh - Duhai Pemimpin kami Duhai Utusan Alloh !

Pengertian “LIRROSUL”
Segala amal ibadah atau perbuatan apa saja asal tidak melanggar syari’at Islam, niatnya HARUS DOBEL. Niat LILLAH dan niat LIRROSUL.
Dengan tambahan LIRROSUL disamping niat LILLAH seperti itu, nilai kemurnian ikhlas makin bertambah bersih. Tidak mudah diridu (digoda) oleh Iblis, tidak gampang disalah gunakan oleh kepentngan nafsu. Di samping itu, pengetrapan LIRROSUL juga merupakan diantara cara ta’alluq bijanaabihi SAW – hubungan atau konsultasi batin dengan kanjeng nabi SAW.
Dengan mengetrapkan LIRROSUL disamping LILLAH secara terus-menerus insyaalloh lama-lama hati dikaruniai suasana seperti mengikuti Rosululloh SAW, atau seperti bersama-sama dengan Rosululloh SAW dimana saja kita berada terutama ketika menjalankan amal-amal ibadah apa saja.
Dengan demikian situasi batin kita benar-benar menduduki “hakikatnya mengikuti” atau mengikuti secara hakiki seperti sudah kita bahas dimuka, HAQIIQOTUL MUTAABA’AH RU’YATUL MATBUU’I ‘INDA KULLI SYAI-IN” : mengikuti yang haqiqi harus melihat kepada yang diikuti pada segala keadaan segala sesuatu dan kondisi.
Adapun dasar atau dalil mengenai penerapan LIRROSUL banyak sekali kita jumpai didalam al-Qur’an. Antara lain bahkan berupa perintah :

وَأَطِيْعُوا اللهَ وَرَسُوْلَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ (8- الأنفال : 1).

“Dan ta’atlah kepada Alloh (Lillah) dan Rosul-NYA (Lirrosul) jika kamu sekalian orang-orang yang beriman” (8 – al-Anfal : 1).

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ (8-الأنْفال: 20)

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Alloh (LILLAH) dan Rosul-NYA (LIRROSUL) dan janganlah kamu sekalian berpaling dari pada-NYA sedangkan kamu sekalian mendengar” (8 – al-Anfal : 20).

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوااللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُولَ وَلاَتُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ (47-محمد:33).

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Alloh (LILLAH) dan ta’atlah kepada Rosul-NYA (LIRROSUL) dan janganlah kamu sekalian membatalkan (merusak) amal-amal kamu sekalian“ (47 – Muhammad : 33).

مَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا (23- الأَحْزاب :71 ).

“Dan barang siapa ta’at kepada Alloh (LILLAH) dan Rosul-NYA (LIRROSUL), maka sungguh ia memperoleh kebahagiaan yang agung” (33 – al-Ahzab : 71).
Orang yang hatinya selalu merasa mengikuti Rosululloh SAW, disamping niat ibadah kepada Alloh dalam segala perbuatan yang tidak melanggar syari’at agama dan undang-undang, lebih-lebih ketika menjalankan amal-amal ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah atau yang mubah sekalipun, otomatis sangat berhati-hati sekali, tidak berani sembrono, tidak berani berkutik. Sikapnya selalu hormat dan tawadhu’ kepada siapapun, lisaanul hal (bahasa sikap) dan lisaanul maqol (bahasa ucapan)-nya senantiasa sopan dan ramah tamah, sebab disinari oleh pancaran takholluq bi akhlaqillaahi wa bi akhlaaqi Rosuulihi SAW. Selalu hormat kepada yang seatasnya dan kasih sayang kepada yang sebawahnya. Senang menolong kepada orang lain dan masyarakat, baik diminta ataupun tidak diminta. Pertolongan lahiriyah atau pertolongan batiniyah. Mudahnya, dia ketularan akhlaq Rosululloh SAW, yang rahmatan lil’alamiin itu. Ketika menjalankan amal-amal ibadah terutama dia lebih berhati-hati lagi, jangan sampai tingkah lahir dan batinnya merusak amal ibadahnya sehingga ditolak oleh Alloh SWT.

Pengertian “BIRROSUL”

Ini termasuk bidang haqiqot seperti halnya dengan BILLAH, sedangkan LILLAH dan LIRROSUL adalah bidang syari’at.

Pengeterapan BIRROSUL ialah :

Disamping sadar BILLAH seperti diatas, supaya juga sadar dan merasa (rumongso lan kroso – bahasa Jawa) bahwa segala sesuatu termasuk diri kita sendiri dan gerak-gerik diri kita lahir maupun batin yang diridhoi Alloh, adalah sebab jasa Rosululloh SAW.

Jadi, dalam segala langkah dan gerak-gerik kita lahir maupun batin yang bagaimana saja asal tidak melanggar syari’at Rosul SAW, hati kita merasa menerima jasa dari Rosululloh SAW, jasa tersebut terus mengalir berkesinambungan tiada putus-putusnya. Jika dihindari sekejap saja oleh jasa Rosululloh SAW, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan wujud kita pun jika dihindari oleh jasa Rosul SAW, menjadi ‘adam (tidak ada) seketika.
Jadi pengetrapan BIRROSUL itu seperti BILLAH akan tetapi terbatas, tidak mutlak seperti BILLAH. Terbatas hanya dalam hal-hal yang diridhoi Alloh wa Rosulihi SAW. Maka ketika dalam ma’siat misalnya, tidak boleh merasa BIRROSUL. Akan tetapi merasa BILLAH, harus. Pembatasan tersebut adalah mengisi bidang adab. Dan kita harus menempatkan segala sesuatu pada kedudukan atau proporsi yang sebenarnya. Bidang syari’at harus kita isi sepenuh-penuhnya dan setepat mungkin, dan bidang haqiqot juga harus kita terapkan setepat mungkin. Begitu juga bidang adab harus kita isi setepat-tepatnya, tidak boleh kita abaikan !.
Langit bumi seisinya ini termasuk manusia, adalah rahmat kasih dari Alloh SWT. Dan rahmat kasih tersebut disalurkan melalui Rosululloh SAW. Alloh SWT berfirman.

وَمَا أَرْسَلنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ (21- الأنبياء : 107).

“Dan tiada AKU mengutus Engkau (Muhammad) melainkan rahmat bagi seluruh ‘alam” (21–al-Anbiya’ :107).

Jadi seluruh alam ini termasuk manusia berhutang budi atau dalam pembahasan diatas memakai istilah “mendapat jasa” dari Rosululloh SAW. Islam dan iman di dada kita ini adalah jasa dari Rosululloh SAW. Jasa yang paling besar nilainya. Tidak dapat diukur dengan harta atau materi berapapun banyaknya !. Bahkan, segala apa saja yang terdapat di dalam diri pribadi manusia, yang ada diluar pribadinya, yang ada disekelilingnya, yang ada dihadapannya yang kelihatan mata atau tidak kelihatan. Yang dapat diraba oleh panca indera atau yang tidak dapat, semuanya itu adalah jasa Rosululloh SAW. Tanpa Rosululloh SAW manusia sudah menjerumuskan kepada kesewenang-wenangan, pertikaian dan permusuhan satu sama lain akhirnya terseret ke bencana kehancuran dan malapetaka kesengsaraan. Firman Alloh SWT :

وكُنْتُمْ عَلَى شَفَاحُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأنْقَذَكُمْ مِنْهَا (4-آل عمران:103).

“Dan kamu sekalian sudah berada di tepinya jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu sekalian dari padanya” (3 – Ali Imron : 103).

Tepi jurang neraka yaitu kebobrokan moral dan kebiadaban manusia yang sudah tidak kenal prikemanusiaan. Yaitu yang dilakukan manusia pada zaman Jahiliyah menjelang diutusnya Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW sebagai utusan Alloh SWT.
Jadi diutusnya Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Rosululloh SAW itu adalah demi untuk menyelamatkan manusia yang nyaris menjerumuskan kepada kehancuran dan kebinasaan akibat kebiadaban perbuatannya sendiri. Jadi fungsi Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW disamping fungsinya yang lain-lain adalah Juru Penyelamat umat manusia atau pembebas umat manusia dari kesesatan dan kehancuran. Akan tetapi sayangnya, kebanyakan manusia tidak menyadari tidak mau tahu betapa agungnya jasa Rosululloh SAW tersebut. Kebanyakan manusia mau berlarut-larut terus diombang-ambingkan oleh nafsunya. Tetapi tidak merasa. Renungkan firman Alloh SWT :

كَلآَّ إِنَّ إلإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَاَهُ اسْتَغْنَى (96- العلق : 6-7).

“Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar berlarut-larut melampaui batas, menganggap dirinya sudah cukup” (96–al-‘Alaq:6-7).

Dengan mengeterapkan LIRROSUL BIRROSUL disamping LILLAH BILLAH manusia dapat menundukkan dirinya sebagai “ABDULLOH” hamba Alloh yang benar dan sebagai umat Muhammad Rosululloh SAW yang benar. Kita yakin orang seperti itu dilindungi oleh Alloh dan didukung oleh Rosululloh SAW di dalam hidup dan kehidupannya. Hidupnya orang seperti itu benar-benar, membawa berkah bagi orang lain dan bagi masyarakat, bagi bangsa dan negaranya. Bahkan bagi umat manusia dan makhluk pada umumnya orang LIRROSUL BIRROSUL disamping LILLAH BILLAH merasa seolah-olah dirinya seperti dilihat oleh Rosululloh SAW dirinya senantiasa diincar oleh Alloh SWT. Sehingga dengan demikian dia tidak berani berkutik tidak berani berbuat soal-soal yang tidak diridhoi oleh Alloh wa Rosuulihi SAW. Alloh SWT menjamin orang seperti itu, selamat dari azab siksa Alloh SWT.

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ (8-الأنْفَال:23).

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menyiksa mereka, sedang engkau berada diantara mereka. Dan tidaklah Alloh akan mengazab mereka selagi mereka mengharap ampunan” (8 – al-Anfal : 33).
Demikian antara lain penting dan manfa’atnya mengetrapkan LIRROSUL BIRROSUL disamping LILLAH BILLAH. LIRROSUL termasuk pelaksanaan bidang syari’at dan BIRROSUL realisasi bidang haqiqot secara batiniyah. Keduanya harus kita terapkan setepat-tepatnya. Tidak cukup hanya sebagai pengertian ilmiah saja, tidak diterapkan didalam rasa hati, bahayanya justru lebih berat daripada yang belum mengerti sama sekali. Alhamdulillah dengan giat melakukan mujahadah Wahidiyah kita dikaruniai peningkatan-peningkatan sekalipun masih harus terus kita tingkatkan lagi. Terus kita tingkatkan tidak ada batasnya.

AL FAATIHAH - MUJAHADAH !.
Sumber : Kuliah Wahidiyah - YPW Kedunglo Kediri.


Selamat Datang

Assalamu 'alaikum wa 'alaikunna wr. wb.

BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM

Selamat datang, bergabung dan menyimak di halaman Silaturrahmi http://tujuhtujuhbelas.blogspot.co.id

FORUM KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA WAHIDIYAH

Catatan Kecil : KISAH DAN PETUAH INSPIRATIF, DISKUSI DAN DIALOG INTERAKTIF, LAYANAN TANYA JAWAB DAN KONSULTASI ONLINE SERTA BERBAGI ATAU SHARING.

YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH !

Bacalah selalu baik lisan maupun dalam hati dimana ingat dan kapanpun Anda berada kalimat nida' :

"YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH !"

Berfaedah sangat besar dan luar biasa, berfungsi sebagai "Rahmatan Lil 'alamiin" dan "Tibbil Qulub" artinya rahmat (welas asih) bagi seluruh alam dan penyembuh atau obat hati, dapat berfadhilah untuk keperluan/hajat apa saja, solusi masalah apa saja, terutama untuk membersihkan dan menjernihkan hati, untuk kedamaian dan ketentraman jiwa serta sadar ma'rifat Billah wa Rosulihihi SAW. Berfadhilah untuk menyembuhkan dan mengobati hati dari sifat-2 tercela dan kegundahan, mengobati tubuh dari beberapa penyakit (memberikan kesehatan jasmani dan rohani), memberi cahaya dan sinar bagi mata hati. Buktikan sendiri keampuhan do'a tawassul tersebut, Insya Alloh Anda akan dapat merasakan berkah dan manfaatnya !. Amiin !.

AMALKAN “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH” diulang-ulang selama kurang lebih 30 menit tiap hari, selama 40 hari berturut-turut.

Boleh diamalkan oleh siapa saja tanpa pandang bulu dan golongan, baik tua, muda ataupun anak-anak, dari suku bangsa manapun dan agama apapun silakan mengamalkan, bahkan sangat dianjurkan tuk menyiarkannya.

Sebar luaskan kepada seluruh kerabat, teman, tetangga, sahabat dan semua orang yang kita temui dengan ikhlas, bijaksana dan welas asih.

Terima kasih dan Jazaa kumulloohu khoirooti wa sa'aadaatid dun-ya wal aakhirfoh Amiin !.

Posted by:

AHMAD DIMYATHI, S. Ag

Mobile Phones :
(0251) 8660966 (Kantor)
082226668817
085773653117
089527405377

Email :
pak.dimyathi@gmail.com

Facebook :
https://www.facebook.com/ahmad.dimyathi.5264

Twitter :
https://twitter.com/AHMADDIMYATHISA

Groups :
https://www.facebook.com/groups/1578120242468050/

Basic Information :
Kominfo Wahidiyah

Birthday :
February 25, 1958

Gender :
Male

Home Address :
Cimandala Sukaraja Bogor Jabar.
© CatatanKecil 2016. Diberdayakan oleh Blogger.